Hai Aybund... Lama sekali kita tidak membahas tentang pendidikan anak usia dini ya. Yuk kita mulai. Tapi sebelumnya siapkan senyum yang manis dulu. Jangan lupa berdoa.
Seringkali kita merespon anak dengan kalimat,
"Wah hebat!"
"Wah keren!"
"Pintar!"
tanpa anak mengetahui alasannya. Hal ini bisa membuat anak menjadi seorang yang selalu ingin dipuji. Apakah kalimat di atas tidak boleh? Tentu saja boleh, namun alangkah lebih baiknya jika disertai alasan mengapa anak hebat? apa yang sudah dilakukan anak? agar anak tau mereka dipuji karena sebab. Anak perlu bereksplorasi dan berekspresi agar melahirkan pola pikir inovatif ketika memecahkan masalah.
Lantas apa referensi kalimatnya? Baik kita ambil contoh ketika anak sedang mengambar.
"Menarik ya gambarnya dek, bisa diceritakan apa saja yang adek gambar?" di sini Aybund bisa sambil mendeskripsikan gambar anak, ketika gambar anak kurang sesuai dengan bentuk yang diucap.
"Apa adek senang, adek sudah menggambar ini?" perasaan anak saat bermain itu penting, dengan bertanya perasaan anak, Aybund jadi tau apa yang dia suka.
"Coba dilihat lagi, apa ada yang perlu ditambahkan di dalam gambar?"
"Mengapa air berwarna hitam nak, bisa diceritakan?" pertanyaan ini bisa diganti ketika anak menggunakan warna yang tidak familiar, karena tidak selalu apa yang kita inginkan sama dengan imajinasi anak. Bisa jadi, anak mengunakan warna hitam, bukan biru dengan argumen pernah melihat mama memasak cumi dan air saat itu berwarna hitam akibat tinta cumi.
"Terimakasih ya adek, sudah menyelesaikan gambarnya dengan tuntas." Ucapan terimakasih membuat anak merasa dihargai atas proses yang dilakukan.
"Bagaimana perasaan adek hari ini? Besok kita main apa lagi ya?" pertanyaan ini memudahkan Aybund menyusun ragam main di keesokan hari dari ketertarikan anak.
Nah, itu sedikit dari saya. Semoga bermanfaat untuk Aybund selama di rumah saja. Tetap senang dan sehat Aybund! Sampai jumpa diketikan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar