Selasa, 19 Januari 2021

Majnun

 "Naila biarkan semua berjalan apa adanya, jangan kau usik apalagi kau remukkan. Jangan buat dirimu menderita. Lihat badanmu kurus kering tinggal tulang, rambut kusut sarang burung, aroma badan minyak urut."

"Aku tak sanggup. Lihat Majnunku, tak nampak dia menginginkanku lagi. Sibuk dengan alkhohol ditangannya, dan asap rokok memenuhi ruang kerjanya. Tak pernah sedikitpun dia memanggilku--kecuali dia benar-benar mabuk terlemaskan. Sajadahnya, sarung dan pecinya penuh debu tertutup sarang laba-laba. Namun aku tak menyerah Saedah, aku bagian di hidupnya sekarang. Bukankah dosanya menjadi tanggunganku? Biarkan aku seperti mayat hidup, mengurusi dia dalam doaku, menatapnya dari jendela kamarku, dan menjaga ketika dia tertidur." Tampak tegar Naila berkata, tak ada peluh di sudut matanya, justru senyum kuat menopang tulang pipinya.

Semenjak perusahaan Majnun rusak termakan ombak tsunami kala itu, kehidupannya pun rusak. Tak nampak suara lembut setiap pagi sehabis subuh, ataupun semangat yang terpancar sehabis membuka jendela kamarnya.

"Aku tak habis pikir, Saedah. Peristiwa itu sudah 5 tahun berlalu, namun entah mengapa Majnunku masih seperti ini. Aku sudah mencoba merintis semua dari awal. Buruh cuci, guru ngaji sudah ku lakoni. Lihatlah sekarang, perusahaan Majnun sudah berdiri kokoh seperti dulu. Tapi dia tak berubah seperti dulu, Saedah."

"Tenanglah Naila, semua butuh waktu. Waktu yang tepat untuk merubah Majnunmu seperti dulu."

"Apakah parasku tak menarik lagi, ataukah botol alkhohol lebih menggairahkan dari pada aku, Saedah?"

"Apa yang kau katakan Naila!! Paras memang menua tapi hatimu tak pernah menua. Apa kau mulai meragukan kesetiaan Majnunmu? Dia punya alasan mengapa dia seperti ini. Biarkan dia tetap seperti itu Naila. Hingga dia sadar bahwa apa yang dilakukan salah."

"Saedah..aku tak mampu membiarkan Majnunku terus seperti itu. Berapa lama waktu yang harus ku korbankan untuk membuatnya sadar?" Senyum tegasnya dibahasi tetesan air mata.

"Hapus air matamu Naila. Lebih baik aku pergi meninggalkanmu sendiri. Naila, tata hatimu mantapkan lagi. Jangan sampai kau lemah seperti Majnunmu. Aku pamit ya, Assalamualaikum." ku peluk Naila sekuat yang ku bisa, ku dengar degup jantung sisa ketabahannya.

Dalam hati aku menjerit, "maafkan aku Naila, kau belum tahu bahwa Majnunmu selalu menemanimu dan menangis ketika kau tertidur. Majnunmu selalu mencintaimu. Kau harus tahu Naila, bahwa bukan perusahaan yang membuatnya bermain dengan botol alkhohol, tapi kekecewaannya terhadap dirinya sendiri. Ya..kecewa tidak mampu menjadi suami yang terbaik bagimu--kecewa karena kamu lebih kuat bangkit darinya, kecewa karena kesabaranmu yang tak pernah tergoyahkan walaupun sikap rusak Majnunmu. Majnunmu ingin melepaskanmu, Naila. Dia tak kuat melihat kau selalu tersakiti dengan sikapnya, melihat darah yang selalu keluar dari hidungmu kala malam, dan mendengar rintihan doa di setiap tahajudmu."

-nales

Tidak ada komentar:

Posting Komentar