Senin, 25 Februari 2019

Selayaknya


Selayaknya
            Jika aku terus mengingat sosok yang selalu muncul begitu saja tanpa aku tahu penyebabnya. Sosok yang selalu menguji, memutar emosiku. Sosok yang selalu berhasil menomor satukan gejolak-gejolak batin, meramu dalam takdir. Aku terpaku dalam harap cemas, semakin lama bergelayut rindu yang belum halal. Kami berdua menyebutnya dengan komitmen. Komitmen saling menjaga dan percaya tanpa dapat menuntut. Sebagian orang menyebut level ini lebih tinggi dari pacaran. Sepersekian kali perasaan terkorbankan dengan tak sengaja.
            Setelah aku melalui patah hati pertama, akhirnya aku membuka hati untuk dia yang baru. Tidak mudah, tidak semanis yang lalu, tidak sehangat yang dulu, dan butuh waktu bertahun-tahun agar phobia kegagalan itu meredam. Aku merasa nyaman sekarang, walaupun gundah tak segera beranjak dari sekat. Dia yang baru lebih dewasa 4 bulan dari aku, lebih tahu batasan-batasan yang boleh dilakukan, lebih religius dan berani mengatakan ‘saya adalah suatu ke-istiqomahan untuk dia’ kata yang selalu ku ingat ketika mulai mengalami keretakan, kata yang mampu menyulam keraguan. Namun, semua itu tidak lantas membuatku menaruh harapan besar untuknya. Dia pun mengajarkan tentang itu, bahwa hati manusia mudah terbolak-balik, dan sudah semestinya ikhlas menerima ketetapan sang pemilik hati. Jika masih bisa selangkah bersama, maka akan timbul beberapa langkah yang sama. Berjuang bersama sampai menuju halalnya, mumpung kami masih mampu bertahan. Entah akan satu pelaminan, atau sebagai tamu undangan. Selayaknya, harapan kami dalam doa dapat terus bersama sembari mengingatkan, saling menopang, dan tidak saling melangkahi jika Allah mengizinkan.
            Ketika membahas masalalu—ini yang menambah pilu sebuah komitmen. Dia dengan perjuangan cintanya sebelumku yang beda dengan aku. Sosok wanita pintar, sholehah, cantik. Dan, aku dengan kisah cintaku bersama laki-laki mendekati sempurna yang sanggup mengerti apapun yang aku jalani sebelum aku memintanya berhenti. Tapi, mereka masalalu dan kami adalah masa ini. Selayaknya kami bergegas berkemas membungkus masa lalu dalam bingkai cerita saja, bukan mengulangnya datang. Kami punya cerita baru, yang tiap lembar kedepannya masih kosong dan siap untuk ditulisi. Ragu, cemas hanya percikan ketika hubungan mulai dingin. Jalani saja apa yang ada sekarang. Biarlah semua mengalir sesuai porsinya. Aku dan kamu dengan kelebihan dan kekurangan yang membuat kita dipersatukan, pelengkap dan cermin ketika keliru.
            Selayaknya, kami akan memahami karakter satu sama lain, kami tidak harus selalu bersama dalam setiap waktu, tapi doa yang tak pernah putus adalah kunci agar semua baik-baik saja. Selayaknya menjaga kepercayaan akan berat apabila iman dan taqwa tergoyahkan.

-nales