Senin, 20 Juli 2020

Belum Utuh


Sudahi?

Sudah berganti tahunnya, tapi tidak dengan rasanya.

Semua yang terlihat selalu membuat ingat, padahal kini kian bersekat karena waktu tak tersendat. Mulai dari kebiasaan buruk, apa saja yang sering dibeli bersama, hal-hal sepele yang membuat lekat, lagu-lagu tak nyaman di telinga tapi ternyata apik. Setiap lekuk kota itu, bercerita tentang dulu.

Seolah selalu, sosok yang  harus tertinggal di tahun kemarin. Ingatanku keliru, membawa sampai tahun baru. Membuat ragu kian menderu, menyapu semu tak menentu.

Sudahi, harusnya. Bahagia setelahnya.

Kata nales



Cie Calon Istri


Selamat menempuh lembaran baru sahabatku.
Sekarang ada yang jagain kamu, sementara aku masih dijagain ibu bapakku. Sekarang ada tanggungjawab baru yang harus kau emban menjadi seorang istri--cita-cita yang sangat aku idamkan tapi ternyata kau mendahuluiku, sementara aku masih jadi mahasiswa dengan segudang tugas kuliahku.

Sekarang nggak bisa lagi aku menculikmu untuk sekedar nemenin aku pergi makan ataupun nongkrong, ghibahin hal-hal kecil sampai lupa waktu, dengerin curhatan ku yang mirip novel tak berujung walaupun aku tahu kamu bosen dengerinnya, nangis bareng ketawa bareng apapun hampir barengan sekarang kamu dah jadi milik orang.
Dah nikah aja kamu tu, hahaha.
‌Jadi istri sholehah ya, tetep mau dengerin curhatku disela waktu sibukmu ngurus rumah dan suami, cepet belajar masak yang enak. Doain aku cepet nyusul ya biar aku juga bisa jadi sugar mommy haha.
Doaku yang terbaik buat kamu, semoga selalu jadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah aamiin.

Emeng

Meong-meong dari semalam, di bawah jendela kamar semakin jelas suaranya. Aku tak tega mendengar rintihan kucing kecil yang ditinggal ibunya atau mungkin jatuh dan tertinggal rombongannya. Heyka segera bergegas setelah mencermati semua ceritaku.
"Kyaraaa, kucing kecil cantik rupawan. Coklat, pesek, geter tubuhnya."
Aku yang suka sekali melihat kucing, tapi tak ada daya kalau diwajibkan pegang. Ampun aku nggak berani. Benar kata Heyka, kucing yang sangat mungil. Tubuhku dingin melihatnya, merasa iba. Belum pernah kita satu kompleks merawat kucing dari bayi. Aku berlari mengambil HP. Ku telfon Kalista pakar kucing, dia temanku.
"Kal, kakakku nemu kucing kecil bangettt. Kayaknya dia laper. Harus diapain iniii!!! Huhu"
"Beliin wiskasss yang basah di indo ada biasanya, kasih susu, kasih kardus dalamnya kasih kain-kain biar anget. Mana aku pengen lihat, video-in coba."
"Kyaa... Itu masih seminggu! Belum seharusnya dia pisah sama emaknya. Kemungkinan dia hidup kecil Kyaa."
Lemas, menelaah kalimat Kalista. Aku posting Emeng, kucing kecil yang cuma bisa meong-meong sambil gemetaran doang.
Pagi itu, kompleks kami rame. Warga berdatangan gara-gara Heyka nemu Emeng.
Emeng memang bibit kucing bagus kalau dewasa kelak. Matanya jernih, telinganya pendek, sepertinya Emeng blasteran mix dom kata temenku saat aku posting di story WA.
Pakar kucing me-replay story dapat ditarik kesimpulan si Emeng nggak akan bisa hidup lama. Paling engake cuma 2 Minggu.
"Aku nggak mau kehilangan Emeng, aku takut dosa kalau Emeng mati."
Hari itu aku benar-benar tak tenang, setiap 5 menit sekali kupastikan degup jantung. Kalau dia tak meong-meong aku semakin khawatir. Tapi, semakin dia meong-meong aku makin-makin nggak tega.
Aku beri kabar saudaraku pecinta kucing, dia mau adopsi Emeng. Tapiii... Saat dia sampai di rumah ku dia tersentak.
"Kyaa... Kecil sekali ini. Belum bisa jilat makanan dan minuman. Harus disiapin dan nggak mau makan."
Heyka sedari tadi memutar otak agar Emeng mau makan, paling tidak agar dia tak kelaparan karena tubuhnya selalu menggigil. Pagi itu, setelah dapat pengarahan dari Kalista , aku bergegas menaiki motor mencari makan buat Emeng walaupun Emeng memang belum bisa makan ternyata :((
Saudaraku mengurungkan niat untuk mengadopsi Emeng karena terlalu kecil. Dia takut Emeng mati saat dibawa. Akhirnya dia menitipkan Emeng ke aku dan Heyka lagi sembari dia berusaha mencari dot agar si Emeng mau makan/minum.
Mbak Kumala dan dua orang anaknya juga pencinta kucing. Melihat Emeng kelaparan tak mau makan, akhirnya putri Mbak Kumala mengambilkan susu khusus kucing. Alhasil Emeng mau minum sedikit sekaliiii.
Aku semakin cemas, Heyka pun demikian. Ketika pakar kucing satu persatu meninggalkan kami. Hingga terbersit dipikiran kami untuk mengembalikan Emeng ke tempat asal dia meong-meong agar ketemu sama emaknya. Tapi kemungkinan terburuk adalah Emeng dimangsa kucing lain atau hewan lain. Kamipun mengurungkan niat.

Hampir adzan magrib, kecemasanku menjadi-jadi ketika rintik hujan turun. Aku takut Emeng kedinginan. Namun tiba-tiba Emeng mengeong kencang sekali. Ku dengar sayup-sayup emak kucing juga mengeong.
"Apa itu emak Emeng ya!!" Kucing itu takut mendekati kami, karena kami berjumlah banyak. Tapi Budhe berinisiatif untuk mendekatkan kardus Emeng ke kucing betina itu. IYA! Benar saja, haru itu menyeruak di dalam benak kami yang menyaksikannya.
Ternyata emak Emeng mencari Emeng!! Emak tidak lupa kalau ada satu anaknya yang hilang. Digigitlah Emeng dan dibawa Emeng ke atas gentig mungkin itu cara si emak melindungi buah hatinya. Ketika digigit Emeng sama sekali tidak meong-meong mungkin Emeng merasa aman akhirnya bertemu emaknya setelah sehari berpisah.
Dann aku bersyukur, Emeng punya kesempatan hidup lebih lama lagi. Dia dapet asi dari emaknya. Kangen sekaliiii. Padahal baru ketemu Emeng tapi mendadak jatuh cinta karenanya. Sehat selalu Emeng sampai jumpa saat kamu dah gede ya!!

Ternyata bayi kucing hampir sama kayak bayi manusia huhu. Asi adalah makanan pertama dan utama bagi bayi yang dapat membuat bayi kebal dari penyakit sekaligus mengenyangkan. Dann ternyata semua ibu, punya kasih tak terhingga sepanjang masa bagi anak-anaknya.

Makasih Emeng, udah bawa haru yang begitu bagi kami!