Selayaknya
Jika aku terus mengingat sosok yang selalu muncul begitu
saja tanpa aku tahu penyebabnya. Sosok yang selalu menguji, memutar emosiku.
Sosok yang selalu berhasil menomor satukan gejolak-gejolak batin, meramu dalam
takdir. Aku terpaku dalam harap cemas, semakin lama bergelayut rindu yang belum
halal. Kami berdua menyebutnya dengan komitmen. Komitmen saling menjaga dan
percaya tanpa dapat menuntut. Sebagian orang menyebut level ini lebih tinggi
dari pacaran. Sepersekian kali perasaan terkorbankan dengan tak sengaja.
Setelah aku melalui patah hati pertama, akhirnya aku
membuka hati untuk dia yang baru. Tidak mudah, tidak semanis yang lalu, tidak
sehangat yang dulu, dan butuh waktu bertahun-tahun agar phobia kegagalan itu meredam. Aku merasa nyaman sekarang, walaupun
gundah tak segera beranjak dari sekat. Dia yang baru lebih dewasa 4 bulan dari
aku, lebih tahu batasan-batasan yang boleh dilakukan, lebih religius dan berani
mengatakan ‘saya adalah suatu ke-istiqomahan untuk dia’ kata yang selalu ku ingat
ketika mulai mengalami keretakan, kata yang mampu menyulam keraguan. Namun, semua
itu tidak lantas membuatku menaruh harapan besar untuknya. Dia pun mengajarkan
tentang itu, bahwa hati manusia mudah terbolak-balik, dan sudah semestinya
ikhlas menerima ketetapan sang pemilik hati. Jika masih bisa selangkah bersama,
maka akan timbul beberapa langkah yang sama. Berjuang bersama sampai menuju
halalnya, mumpung kami masih mampu bertahan. Entah akan satu pelaminan, atau
sebagai tamu undangan. Selayaknya, harapan kami dalam doa dapat terus bersama
sembari mengingatkan, saling menopang, dan tidak saling melangkahi jika Allah
mengizinkan.
Ketika membahas masalalu—ini yang menambah pilu sebuah
komitmen. Dia dengan perjuangan cintanya sebelumku yang beda dengan aku. Sosok
wanita pintar, sholehah, cantik. Dan, aku dengan kisah cintaku bersama
laki-laki mendekati sempurna yang sanggup mengerti apapun yang aku jalani sebelum
aku memintanya berhenti. Tapi, mereka masalalu dan kami adalah masa ini.
Selayaknya kami bergegas berkemas membungkus masa lalu dalam bingkai cerita
saja, bukan mengulangnya datang. Kami punya cerita baru, yang tiap lembar
kedepannya masih kosong dan siap untuk ditulisi. Ragu, cemas hanya percikan
ketika hubungan mulai dingin. Jalani saja apa yang ada sekarang. Biarlah semua
mengalir sesuai porsinya. Aku dan kamu dengan kelebihan dan kekurangan yang
membuat kita dipersatukan, pelengkap dan cermin ketika keliru.
Selayaknya, kami akan memahami karakter satu sama lain, kami
tidak harus selalu bersama dalam setiap waktu, tapi doa yang tak pernah putus
adalah kunci agar semua baik-baik saja. Selayaknya menjaga kepercayaan akan
berat apabila iman dan taqwa tergoyahkan.
-nales
-nales
pengen nangis,,,,,,, semangat kakak
BalasHapusAzis thankyuuu
BalasHapus